Random (edited)
Hari kesekian #dirumahaja
I've lost my count!
Untuk apapun yang terjadi di tahun 2020, saya masih punya banyak alasan untuk terus bersyukur ditengah segala ketidakenakan tahun ini. Semoga kamu juga.
Akhir-akhir ini ada pembicaraan yang cukup serius ditengah keluarga. Pembahasan yang kerap diulang saat ada kesempatan berkumpul --biasanya di meja makan. Pembahasan mengenai rencana kami untuk mengubah kebiasaan berlebaran kami.
"Hari Raya tahun ini kita gak usah beli baju baru, ya." Usul Mama.
"Kenapa?" Tanya kami.
"Ini jaman susah. Banyak orang yang kehilangan pekerjaannya. Orang lain aja banyak yang bingung mau makan apa hari ini, masa kita masih mikirkan baju baru?" Jawab Mama.
Saya yang pada dasarnya tidak perduli dengan ada atau tidaknya baju baru tentu merasa baik-baik saja. Sebenarnya, saya tidak pernah menikmati momen membeli baju lebaran, tepatnya, saya memang tidak menikmati momen membeli baju baru kapan saja. Hal ini yang kemudian sering menjadi awal mula percekcokan Mama dengan Saya, "Males bawa Dini belanja baju. Selalu minta pulang cepat." Tidak tahu mengapa dan tanpa dibuat-buat, berada di toko pakaian benar-benar membuat saya merasa pusing, pening. Ini bukan sugesti perasaan saya, saya benar-benar merasakannya di kepala!
"Bagaimana?" Ulang Mama.
Saya tidak terkejut ketika kakak dan adik-adik saya yang lain tidak keberatan akan hal itu. Kami mulai paham tujuan Mama, mengajarkan empati pada kami yang selama ini dimanjakan dengan segala yang serba baru di Hari Raya.
Usulan untuk tidak berbaju baru di Hari Raya dengan mudah kami terima, tanpa bantahan. Hanya sebatas pertanyaan "kenapa?".
Penghapusan kebiasaan baju baru tahun ini cukup menyenangkan saya. Karena kami tidak perlu belanja baju disaat kami sedang berpuasa. Saya juga kagum dengan cara Mama memilih nilai apa yang hendak diajarkan kepada anak-anaknya. Dibanding memaksakan kami menjadi pekerja yang mendapat gaji disetiap bulannya secara tetap, PNS misalnya, Mama lebih memilih untuk menempatkan ajakan bersikap empati sebagi prioritas. Ini yang terbaik menurut saya. Dibanding harus memikirkan keadaan di masa depan (pekerjaan dan gaji kami) yang sama sekali diluar kendali kami, bersikap empati adalah hal yang penting dan wajib. Dengan keadaan sulit seperti saat ini, solusi kecil yang bisa dilakukan saat ini lebih baik dari segala rencana besar di hari yang masih panjang nantinya. Sikap kecil seperti memastikan tetangga sebelah rumah bisa makan dengan cukup dan layak pasti lebih solutif dibanding membahas "Nanti kamu kerja sebagai (sebut satu profesi), Nak. Biar kalau ada krisis seperti saat ini kamu tidak kelaparan."
Tidak adanya baju baru di Hari Raya tahun ini bisa jadi kesempatan kami sekeluarga untuk merefleksikan kembali sebenarnya apa makna Hari Raya dan apakah Hari Raya harus disambut dengan baju baru?
Padahal satu hal yang wajib dipastikan baru di Hari Raya adalah kebersihan hati. Ah, siapa saya bicara begini. Tapi ya seharusnya ketika kita mengucap kalimat permintaan maaf pada kerabat, kita juga berdamai dengan hati untuk benar-benar memaafkan apa yang sudah terjadi di hari-hari yang lalu. Kesalahan tutur kata yang menyinggung, sentuhan tangan yang menyakiti, atau kalimat-kalimat buruk siapapun yang berbicara hal buruk di belakang.
Rasanya saya sudah tidak sabar merasakan Hari Raya dengan sesuatu yang berbeda. Pembatasan bertemu dengan keluarga, memakai pakaian yang sudah dipakai berkali-kali sebelumnya, tanpa salaman dan sentuhan fisik yang biasanya mendamaikan.
Mungkin dengan segala pembeda tahun ini, Hari Raya dapat direfleksikan kembali. Apa yang sebenarnya membuat Syawal istimewa, kemampuan membeli barang-barang baru atau memaafkan kesalahan-kesalahan di hari lalu.
0 Komentar