[REVIEW BUKU #3] Tentang Hidup yang Singkat : Tips Hidup Bahagia ala Seneca.
Pada 2020, saya mewajibkan diri untuk mempelajari tiga hal baru setiap bulannya. Hal baru apapun. Pada Januari 2020, salah satu pelajaran baru yang saya pelajar adalah mengenal aliran Filsafat Stoic. Awal pertemuan saya dengan Stoic akan dibahas di tulisan selanjutnya.
* * *
Lucius Annaeus Seneca (ca. 4 SM-65 SM) adalah seorang filsuf Stoik, negarawan, dan penulis drama Romawi pada Zaman Perak sastra Latin. Dia adalah tutor dan kemudian menjadi penasehat kaisar Nero. Dia dituduh terlibat dalam konspirasi Piso, yang bertujuan membunuh kaisar, dan dipaksa melakukan bunuh diri.
Melalui buku Tentang Hidup yang Singkat yang ditulis olehnya, Seneca memberikan memaksimalkan hidup yang singkat ini dengan rasa bahagia, Seneca juga menguraikan bagaimana hidup yang singkat ini bisa terasa panjang dan bermakna dengan menghadirkan seni di dalamnya. Sebelum membuka bukunya dan memulai membaca, sempatkanlah membalik buku ini dan renungi kalimat yang tertulis dibelakangnya.
Sebagian besar umat manusia mengeluh tentang sifat jahat alam, karena kita terlahir untuk menjalani rentang hidup yang singkat, karena waktu yang telah diberikan untuk kita berlalu begitu cepat. Dengan sedikit sekali pengecualian, hidup berakhir justru saat kita merasa telah siap menjalaninya. Bukan hanya orang-orang di jalan dan masyarakat awam yang berkeluh kesah saat melihat kejahatan universal ini: perasaan yang sama, yang ada di balik segala keluhan, juga ada pada orang-orang yang terhormat.
Buku ini berisi tiga bab; Tentang Hidup yang Singkat, Penghiburan kepada Helvia, dan Perihal Kedamaian Pikiran. Masing-masing bab ditulis oleh Seneca berdasarkan latar belakang yang berbeda. Tulisan Tentang Hidup yang Singkat ditulis oleh Seneca dan ditujukan oleh mertunya, Paulinus. Dalam tulisan ini, Seneca memberi kritik kepada manusia yang selalu memandang hidup sebagai waktu yang sangat singkat. Padahal perasaan semacam ini muncul dikarenakan kegagalan kita dalam mengatur waktu. Benar saja, apabila saya menghabiskan waktu saya seharian dengan rebahan (Ah, saya sering melakukannya) maka hari itu terasa begitu cepat berlalu dengan kesia-siannya. Tiba-tiba begitu saya berdiri dari tempat tidur dan membuka pintu, langit sudah gelap ternyata. Gelapnya langit menjadi pertanda hari ini saya habiskan percuma. Oleh karena itu, dalam tulisan ini Seneca menuliskan gagasan pentingnya, yaitu perbedaan antara sekadar waktu dengan waktu hidup. Mungkin kita merasa keduanya sama saja, sama-sama 24 jam disetiap harinya. Namun tidak bagi Seneca. Waktu adalah segala durasi yang kita habiskan untuk melakukan aktifitas yang tidak berguna seperti bermalas-malasan, atau aktifitas yang menyibukkan kita karena ketamakan akan ambisi, hasrat, dan emosi negatif lainnya. Sementara waktu hidup adalah durasi yang kita habiskan untuk belajar bagaimana caranya menjalani hidup selaras dengan alam dan penerimaan akan kematian. Oleh karenanya, menurut Senece, bahkan durasi 1000 tahun tidak akan pernah cukup dan terasa sangat singkat sebagai waktu. Namun, waktu hidup yang dihabiskan untuk belajar itulah waktu yang menjadi aset yang paling berharga dalam hidup.
Bab kedua, Penghiburan kepada Helvia, merupakan surat yang ditulis Seneca kepada Ibunya sebagai penghiburan atas kesedihan ibunya akibat pengasingan Seneca ke Corsica saat dirinya dituduh sebagai senator yang melakukan tindakan tidak terpuji dengan saudari Kaisar Caligula. Seneca tidak sedih akibat pengasingan ini. Dia menganggap dirinya sebagai prajurit yang sudah siap menerima luka bahkan ketika peperangan belum dimulai. Seneca yang sejak awal terbiasa menjaga jarak dari kemilau uang, jabatan, dan pengaruh, tidak merasa depresi saat itu semua hilang darinya. Menurut Seneca, pengasingan tidak akan memberi efek keterasingan apabila manusia menyadari kemanapun kita pergi, yang akan kita hadapi sama saja. Karena baginya apa yang terjadi kepada manusia selama hidupnya diatur oleh entitas ilahiah, takdir atau serangkaian kausalitas. Sehingga, banyak dari kejadian hidup yang berada diluar kendali manusia. Meskipun takdir kerap memberi hal buruk, ia tak bisa disalahkan. Karena takdir juga telah banyak memberi kebahagian dan keberuntungan.
Pada tulisan ini, Seneca memberikan contoh bagaimana melakukan penghiburan atas duka dengan akal, yaitu dengan cara membuka seluruh ingatan tentang luka-luka sebelumnya yang sudah berhasil sembuh. Menurut Seneca, saat seseorang terluka, alih-alih meratapi luka ia harus bersikap sebagai seorang prajurit yang tetap tenang dan menjalani pengobatan atau penghiburan.
Bab Ketiga, Perihal Kedamaian Pikiran, ditulis Seneca untuk temannya, Annaeus Serenus, dalam bentuk dialog. Dalam bab ini, Seneca menuliskan berbagai usaha untuk menyembuhkan penyakit mental seperti ansietas, kekhawatiran hingga rasa jijik atas kehidupan yang dijalani. Seperti yang ditulis Seneca di bab sebelumnya bahwa ia sengaja membiasakan diri untuk menjauhi kemewahan, Seneca hidup dengan cara yang sederhana. Seneca bahkan menyinggung harta benda sebagai sumber derita yang paling merugikan manusia dan kepura-puraan dalam gaya hidup dihadapan orang lain guna mendapatkan eksistensi dan gengsi adalah sumber utama ketidaktenangan dalam hidup. Namun, gaya hidup dilingkungannya yang memiliki kultur untuk mengajarkan orang menggunakan pakaian mewah dan mahal hingga memberi hiasan rumah dengan pernak-pernik mewah cukup mengganggu dan pikirannya. Seneca benar, sungguh memuakkan hidup ditengah masyarakat yang mengkulturkan kemewahan. Memandang hormat si kaya dan menyepelekan si Miskin. Memberi standar pada hidup bahwa barang-barang mewah memberi rasa kebahagiaan pada hidup.
Dalam bab ini, Seneca memberikan pencerahan kepada Serenus yang menurutnya mengalami ketidakpuasaan terhadap dirinya sendiri yang biasanya dilahirkan oleh kerapuhan mental dan adanya keinginan yang tidak terpenuhi. Menurut Seneca, manusia bisa meraih ketenangan pikiran dengan cara memilih jalan tengah antara hasrat untuk menjalani hidup dengan kontemplasi dan kebutuhan untuk terlibat aktif dalam politik. Karena dalam politik, Seneca melihat secara langsung bagaimana riuhnya manusia yang terlalu ambisius sehingga mudah membelokkan kebenaran dan mengabaikan kejujuran.
* * *
Ada banyak kutipan yang sangat saya sukai dari buku ini, diantaranya:
Kenapa kita mengeluh tentang alam? Alam telah bersikap baik: hidup itu lama jika Anda tahu bagaimana cara memanfaatkannya. Namun, ada orang yang terbelenggu ketamakan yang tak terpuaskan, dan ada juga orang yang terkekang karena menekuni berbagai tugas yang tidak berguna.
Manusia biasanya berkata bahwa kita tak bisa memilih siapa orangtua, tapi bisa memilih ingin menjadi "anak siapa". Ada banyak orang-orang bajik yang cerdas, pilihlah salah satunya untuk menjadi "orangtuamu". Kemudian, mereka tak hanya mewariskan nama, tapi juga "harta bendanya". "Harta" itu tidak perlu dijaga rapat-rapat, semakin banyak dibagi, justru semakin bagus.
Untuk apa memiliki ribuan buku dan perpustakaan jika kita jarang membacanya? Jumlah buku yang banyak hanya akan membenani, dan lebih baik jika kita hanya punya sedikit buku tapi rutin mempelajarinya.


0 Komentar