Menjadi Dewasa
Semakin dewasa, semakin banyak pula yang dirasa salah.
Setiap kali bertemu dan bermain dengan anak-anak, setiap itu pula mendapat banyak pelajaran kecil tetapi berharga. Bagaimana mereka bisa dengan mudah melepaskan mainan yang tidak bisa mereka miliki, walau harus menangis meraung-raung di awal. Tetapi setelah tangisan reda, dendam pun kabur ntah kemana. Teman yang tadinya merebut mainan, datang lagi, lalu kembali main bersama lagi. Tidak ada sindir-sindiran, insiden rebutan mainan tadi terlupakan begitu saja. Sesimpel itu.
Lalu berkaca pada diri sendiri, rasanya begitu sulit untuk berdamai dengan orang yang telah menyakiti. Jangankan dengan orang yang menyakiti, berdamai dengan diri sendiri pun tak kalah sulit. Kenapa menjadi dewasa, segalanya semakin ribet? mungkin ini bukan jawaban sebenarnya, ini hanya opini. Wajar bila semakin dewasa semakin ribet dan menyesakkan pikiran. Apa yang sedang kita targetkan bukan hal kecil sesepele mainan anak-anak. Apa yang kita rancang bukan lagi untuk permainan sehari, tetapi sudah membawa kata 'masa depan'. Wajar bila anak kecil begitu enteng memaafkan teman yang merebut mainannya. Toh, hanya mainan. Hanya sekadar sesuatu yang terbuat dari plastik, yang bisa direngekkan dengan orangtua untuk membeli kembali. Hanya mainan. Berbeda dengan yang orang dewasa perjuangkan. Meminta sekeras apapun pada orangtua, rasanya tidak akan pernah mungkin mendapat jawaban pasti, 'Ya. Nanti Ayah-Ibu jaminkan masa depanmu cerah dan bahagia.'. Ya, tidak bisa.
Mungkin itu mengapa orang dewasa memiliki cerita yang terasa rumit. Tetapi, tak jarang pula orang dewasa kurang kerjaan. Merumitkan segala apa-apa yang sebenarnya sudah bisa diselesaikan dengan gampang. Mungkin karena terbiasa dengan yang rumit, kita cenderung membuat rumit segalanya. Kalau sudah merasa hidup kok ya musing-in banget, mungkin bisa di cek lagi apa yang kita buat menjadi prioritas.
Setiap kali bertemu dan bermain dengan anak-anak, setiap itu pula mendapat banyak pelajaran kecil tetapi berharga. Bagaimana mereka bisa dengan mudah melepaskan mainan yang tidak bisa mereka miliki, walau harus menangis meraung-raung di awal. Tetapi setelah tangisan reda, dendam pun kabur ntah kemana. Teman yang tadinya merebut mainan, datang lagi, lalu kembali main bersama lagi. Tidak ada sindir-sindiran, insiden rebutan mainan tadi terlupakan begitu saja. Sesimpel itu.
Lalu berkaca pada diri sendiri, rasanya begitu sulit untuk berdamai dengan orang yang telah menyakiti. Jangankan dengan orang yang menyakiti, berdamai dengan diri sendiri pun tak kalah sulit. Kenapa menjadi dewasa, segalanya semakin ribet? mungkin ini bukan jawaban sebenarnya, ini hanya opini. Wajar bila semakin dewasa semakin ribet dan menyesakkan pikiran. Apa yang sedang kita targetkan bukan hal kecil sesepele mainan anak-anak. Apa yang kita rancang bukan lagi untuk permainan sehari, tetapi sudah membawa kata 'masa depan'. Wajar bila anak kecil begitu enteng memaafkan teman yang merebut mainannya. Toh, hanya mainan. Hanya sekadar sesuatu yang terbuat dari plastik, yang bisa direngekkan dengan orangtua untuk membeli kembali. Hanya mainan. Berbeda dengan yang orang dewasa perjuangkan. Meminta sekeras apapun pada orangtua, rasanya tidak akan pernah mungkin mendapat jawaban pasti, 'Ya. Nanti Ayah-Ibu jaminkan masa depanmu cerah dan bahagia.'. Ya, tidak bisa.
Mungkin itu mengapa orang dewasa memiliki cerita yang terasa rumit. Tetapi, tak jarang pula orang dewasa kurang kerjaan. Merumitkan segala apa-apa yang sebenarnya sudah bisa diselesaikan dengan gampang. Mungkin karena terbiasa dengan yang rumit, kita cenderung membuat rumit segalanya. Kalau sudah merasa hidup kok ya musing-in banget, mungkin bisa di cek lagi apa yang kita buat menjadi prioritas.
0 Komentar