Google

Awalnya aku ngerasa hidupku baik-baik aja. Sebenarnya ini perasaan yang tidak terlalu boleh dipercaya sepenuhnya,sih. Tapi ya aku baru nyadar bahwa hidup tidak boleh diyakini baik-baik saja itu baru-baru ini saja. Bahaya sih. Jadi untuk kalian yang belum sadar, semoga tulisan ini bisa menyadarkan kalian. Kalau ternyata kalian tidak sadar juga, ya bisa jadi bahwa hidup kalian memang baik-baik saja, kini dan seterusnya.

Jadi begini, kalian pernah dengar istilah introvert gak sih?
Bukan bukan, bukan pribadi yang pemalu gitu. Ya emang sih introvert itu terlihat kaya pemalu gitu, tetapi itu bukan pemalu kok sebenarnya. Pemalu dan introvert itu berbeda. Baiklah, aku akan menjelaskannya. Jadi, ditinjau dari cara memperoleh dan mempertahankan energi, keperibadian itu dibagi menjadi tiga jenis. Ada introvert, ambivert, dan ekstrovert. Seperti dari namanya, introvert mengandung makna sebagai kepribadian yang mendapatkan energinya dari 'dalam' atau sebut saja dari dirinya sendiri. Kalau ada orang yang memperoleh energi dari dalam dirinya sendiri, maka berarti ada juga orang yang memperoleh energinya dari luar, nah orang-orang itu yang disebut dengan ekstrovert. Diantara dua itu, ada orang yang bisa dapatin energinya dari luar ataupun dalam dirinya. Yah orangnya santuy gitulah. Luar dalam oke aja. Orang-orang ini disebut ambivert. Ya kaya amfibi lah (untuk hewan), bisa hidup di dua alam. Sejauh ini sudah paham? Kalau sudah, mari lanjut cerita lagi.
Diantara tiga jenis tipe kepribadian itu, aku ada dibagian introvert. Jadi...yups! aku selalu nyaman dengan diri sendiri dan kesendirian. Ibarat HP, energi kita juga butuh di charge. Nah, aku nge-charge diriku dengan menyendiri. Sama kaya HP juga, kalau penuh harus di lepas dari charger-nya kan? Aku juga gitu. Kalau udah merasa penuh dengan energi, aku harus menghabiskan energi, yaitu dengan bergaul dengan orang-orang. Begitu mekanismenya.

Selama 20 tahun hidup, aku baik-baik aja dengan semua itu. Bersyukur malah. Karena aku bisa tumbuh jadi manusia yang mandiri. Tetap enjoy kemanapun walau sendiri. That sounds good. Tapi entah kenapa, setahun terakhir ini aku jadi merasa insecure dengan diri sendiri. Susah diungkapin gimana insecure-nya aku. Aku masih nikmatin segala kesendirianku, tapi ya gitu kadang suka ngomong ke diri sendiri 'loh..orang kok bisa punya banyak kawan dan kegiatan ya?'. Biasanya omongan jahat itu terucap saat liat story IG teman-teman. Duh!
Nah..tapi kalau ada orang (yang bukan dari lingkaran dekatku) nyamperin dan ngajak main gitu, aku langsung nolak. Padahal bisa aja itu jawaban dari pertanyaanku kan? Maksudnya ya gimana aku bisa punya teman dan kegiatan banyak kalau aku sangat selektif bahkan gak nge-recrute orang baru untuk masuk ke lingkaranku. Gimana mau memperbesar lingkaran sosial kalau aku emang senang banget menjaga kekecilan lingkaran sosialku. Bingung kan? Nah emang iya.

Nah tujuan dari tulisan ini ya untuk mempertanyakan kembali, ini insecure yang wajar di usia 21 tahun gak sih? atau emang udah saatnya aku nyadar? 
Tapi aku merasa wajar sih, setiap orang punya insecure nya masing-masing. Iyakan?