Saat ini, Amerika adalah negara yang dikenal dengan status Super Powernya. Namun, melalui perdagangannya, China mulai mengejar status Super Power itu dan semakin siap menggantikan Amerika dengan kekuatan ekonomi, militer, sains, dan teknologinya.

Data Buku
Judul buku : Strategi China Merebut Status Super Power
Pengarang : Prof. Dr. Bambang Cipto, M.A.
Penerbit : Pustaka Pelajar
Halaman      : 298 Halaman
Tahun terbit : 2018
Cetakan ke : Pertama
Harga buku : Rp. 55.000

Ringkasan Isi Buku
Buku yang berjudul Strategi China Merebut Status Super Power ini menjabarkan bagaimana China yang mulai bangkit dari negara berkembang menuju negara yang berambisi menjadi negara super power menggantikan posisi yang diduduki oleh Amerika saat ini. Buku ini terdiri dari delapan bab dengan sub-bab di masing-masing bab nya.
Buku ini diawalai oleh bab pertama yang diberi judul sebagai pendahuluan. Bab ini terdiri dua sub-bab, yaitu Rivalitas Amerika vs China, dan Strategi Menuju Status Super Power. Seperti judul bab nya, pada bab ini dijelaskan tentang sejarah super power Amerika hingga realita yang ada dibaliknya. Diawali dengan cerita dibalik berakhirnya Perang Dingin yang ditandai dengan berakhirnya persaingan sengit yang melibatkan kubu Barat (Amerika) dan kubu Timur (Uni Soveiet). Di era pasca Perang Dingin, Amerika adalah satu-satunya negara yang masih tampak kuat, sehingga Amerika menjadi sebuah negara yang memiliki peran tunggal yang kuat. Namun, dibalik status super power-nya yang dikenal oleh dunia, ternyata sejak 2008 Amerika mengalami krisis finansial global. Hal ini mempengaruhi sektor perbankan dan perumahan yang hancur berantakan dan menyebabkan sekitar sembilan jutaan warga Amerika kehilangan lapangan pekerjaan. Tak hanya mempengaruhi perekonomian dalam negerinya, kondisi internal Amerika ini pun turut menyebabkan krisis keuangan global. Kondisi yang buruk ini kemudian menjadi alasan negara-negara anggota G 20 berusaha untuk menciptakan stabilitas keuangan global dengan cara masuk ke dalam percaturan global dunia yang multipolarisme. Di balik status super powernya, tenryata ekonomi Amerika juga bergantung pada utang luar negeri. Salah satu negara yang dihutangi oleh Amerika adalah China. Menurut pendapat Fukuyama, pernyataan bahwa kapitalisme dan demokrasi liberal adalah pemenang pasca perang dingin adalah pernyataan yang terlalu terburu-buru. Karena pada nyatanya, Barat malah menciptakan kemunduran bagi dirinya sendiri. Melalui isu terorisme, kemunduran ekonomi Amerika dan Eropa, keretakan NATO adalah serangkaian tanda-tanda kemunduran peradaban Barat.
Pada sub-bab yang ditulis dengan judul Rivalitas Amerika vs China, penulis menuliskan bahwa dalam hanya dalam waktu 30 tahun China mmapu mengubah dirinya dari negara berkembang menjadi negara yang kemampuan ekonominya nyaris dengan sama dengan Amerika. Melihat pertumbuhan ekonomi China yang semakin maju tentu menjadi ancaman bagi Amerika. Bagi Amerika yang diwakilkan oleh Trumo dan kalangan anti China menganggap bahwa kemakmuran ekonomi yang sedang sedang tumbuh di China adalah hasil merampok kemakmuran Amerika. Tak segan, Trump juga mengtakan bahwa kemakmuran China adalah hasil pencurian hak milik intelektual teknologi Amerika. Selain itu, buku ini juga menceritakan tentang kepesatan pertumbuhan China di bawah kepemimpinan Xi Jinping. Di bawah kepemimpinannya, Xi Jinping meluncurkan program Belt and Road Initiative dan pembentukan AIIB sampai level tertentu, kedua kebijakan ini tentu merupakan bentuk tantangan terhadap barat. Bukan hanya karena kecemburuan Trump terhadap kepesatan pertumbuhan ekonomi China, namun juga karena kebijakan brilliant ini dicanangkan oleh negara dengan ideologi komunis dan bukan berasal dari negara yang menganut ideologi kapitalis liberal. Joseph Nye mengatakan bahwa agresivitas China ini harus dilawan karena China semakin menunjukkan agresivitasnya di Laut China Selatan dan di Laut China Timur yang tentu semakin membuat resah para petinggi di Washington. 

Trump tentu ketakutan dan merasa terancam dengan kebangkitan China ini. Sebab itu, Trump menabuh genderang perang dagang sampai di tingkat tertentu. Perang dagang ini adalah salah satu strategi Trump untuk menghentikan laju kemajuan ekonomi dan teknologi China yang semakin mengancam status super powernya Amerika. Lalu sebenarnya apa karakterisitik yang bisa menjadikan sebuah negara menyandang status power? Pada halaman 12, buku ini menjawab pertanyaan itu. Para pengamat menyatakan bahwa sebuah negara bisa menyandang status super power apabila negara tersebut berada pada puncak kekuatan militer, politik, ekonomi, dan budaya dnegan cara terus-menerus meningkatkan dan menjaga kekuatan negara pada bidang-bidang tertentu yang cukup strategis. Dari pernyataan para pengamat ahli tersebut tentu kita dapat memahami bahwa benar China sedang menyusun strategi untuk merebut status super power. Seorang Kanselir Jerman, Angela Markel, mengatakan bahwa sudah saatnya Eropa menjalin kerjasama yang lebih dan menjadi rekanan penting dengan China. Bahkan, di Australia telah muncul perdebatan tentang perlunya Australia mengambil sikap untuk meninggalkan Amerika Serikat yang cenderung menjalankan kebijakan yang isolasionis.

Setelah pendahuluan tentang perjalanan Amerika menjadi super power hingga ketakutan Amerika melihat kebangkitan China yang semakin pesat, lalu sebenarnya bagaimana strategis China merebut status power dari Amerika? Berikut adalah ringkasan singkat mengenai bagaimana strategi China dalam merebut status super power :

A. Strategi Ekonomi. Sejak mengembangkan pasar besar pada akhir 1970an yang diprakarsai oleh Deng Xiaoping saat ini China menjadi salah satu negara yang memiliki ekonomi terbesar di dunia. Deng memiliki pernyataan yang cukup menurut bagi saya, yaitu tidak penting apa warna kucing, yang penting adalah ia pandai menangkap tingkus. Pandangan pragmatis Deng ini mampu mengubah China secara drastis dari yang komunis kaku menjadi China yang lebih terbuka dengan dunia luar. Hal ini dibuktikan dengan China menerapkan kebijaksanaan terbuka dengan menarik sebanyak mungkin investasi asing. Sejak memasuki dekade 1990-an, ekonomi China berubah. Negara ini semakin memainkan peran bessar mengendalikan sektor-sektor ekonomi di bidang-bidang strategis dan perekonomian China menjadi ekonomi yang bersifat padat modal. Misi utama perusahaan China adalah guna mendukung kebangkitan China. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah membuat serangkaian kebijakan yang bertujuan untuk memperkuat dan memperbesar peranan perusahaan negara dalam perekonomian China. Kebijakan itu adalah 1) Pemerintah mendorong departemen untuk memilih perusahaan negara dalam proses penentuan kontrak. Contoh nyata dalam berhasilnya kebijakan ini adalah perusahaan Huawei yang sukses menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar di dunda berkat dukungan pemerintahan China. 2) Pembtasan kerja sama dengan perusahaan asing dengan persyaratan ketat yang telah ditentukan oleh pemerintah China. Perusahaan asing yang tak mematuhi syarat-syarat ketat yang diberikan oleh pemerintah China akan dilarang keras untuk beroperasi di China. 3) Memberlakukan jalur khusus untuk perusahaan negara dalam mendapatkan kredit dari pemerintah yang tidak diberlakukan kepada perusahaan swasta. Bank-bank di China akan melayani dengan khusus perusahaan negara untuk mendukung kebangkitan China. 4) Meringankan pembayaran pajak perusahaan negara. Kebijakan ini tentu memungkinkan perusahaan negara untuk menabung sebanyak mungkin untuk memperkuat perusahaannya. 5) Perusahaan negara mendapat mandat khusus untuk bergerak dalam bidang pertahanan, keuangan, listrik, telekomunikasi, dan hidrokarbon. Dibuktikan dengan perusahaan baja dan mineral yang mendapat keleluasaan sebanyak mungkin untuk mengembangkan diri.

B. Strategi Militer. Meski hanya dikenal sebagai negara dengan kekuatan ekonomi yang berkembang sangat pesat dalam 30 tahun terakhir, ternyata China juga memiliki kekuatan militer yang tidak main-main. Menurut laporan International Institute for Strategic Studies pada tahun 2017 angkatan senjata China merupakan angkatan bersenjata terbesar di dunia. Angkatan bersenjata ini teridir dari angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, pasukan roket, polisi dan pasukan cadangan. Jumlah keseluruhan pasukan bersenjata ini ternyata tidak kurang dari 2.183.000 dan dikenal sebagai pasukan-pasukan bersenjata yang sangat terlatih. Selain itu, ternyata IISS juga menyebutkan bahwa kemampuan militer China kini telah mampu menyeimbangi kemampuan militer barat bahkan telah berhasil melampaui kekuatan militer negara-negara anggota NATO. Kekuatan ini tentu tidak datang begitu saja, China cukup gencar melakukan modernisasi angkatan bersenjata yang telah dimulai sejak pertengahan dekade 1980-an. Kekuatan militer China ini pun semakin tak tertandingi karena China terus melakukan pengembangan teknologi artificial intelligence. Di samping pengembangan teknologi revolusioner yang terus dikembangkan China, China juga melakukan pengembangan pada teknologi ruang angkasa nya. Tak hanya memasarkannya pada perusahaan-perusahaan dalam negerinya, China juga bahkan mulai mengeskpor satelit buatan China tersebut ke berbagai negara seperti Nigeria, Bolivia, Venezuela. Tak hanya itu, China juga ternyata menguasai salah satu teknologi militer mutakhir yaitu teknologi drones atau pesawat udara tanpa awak yang berukuran kecil). Hal ini dibutkikan dengan China sebagai produsen drones bersenjata. Dalam keseriusan mengembangkan kekuatan militernya, China juga turut berpacu dalam pengembangan teknologi hypersonic yang terus dikembangkan oleh beberapa negara saat ini. Teknologi ini memungkinkan peluru kendali dapat meluncur dalam kecepatan 5000 per jam. Peluru yang diluncurkan pun adalah peluru kendali yang berbasis teknologi.

C. Pengembangan Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Sains dan teknologi adalah dua hal yang harus terus dikembangkan mengingat dua hal ini adalah hal yang penting sehingga tidak bisa dipisahkan dari kepentingan politik dan gambaran masa depan sebuah bangsa. Kemajuan Sains dan teknologi tentu berbanding lurus dengan kemajuan negara tersebut. China pun menjadikan ini sebuah strategi untuk merebut status super power. Pengembangan sains dan teknologi ini dimulai antara lain dengan mengembangkan pendidikan tinggi. China berencana untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai salah satu sarana dalam meningkatkan pengaruh global china dan menempatkan perguruan tinggi dalam proyek OBOR-nya. China berharap perguruan tinggi dapat menjadikan dirinya sebagai pusat pengembangan pemikiran dan penelitian guna mendukung proyek raksasa yang menjanjikan ini. Komitmen China untuk mengembangkan pendidikannya pun tak main-main, hal ini dibuktikan dengan peringkat China sebagai destinasi pendidikan terbesar ketiga. Dalam sebuah konferensi Menteri Pendidikan China, Chen Bosheng, menyatakan hal senada bahwa pendidikan China semakin dikenal di dunia internasional. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya jumlah mahasiswa internasional yang belajar di China. Mahasiswa internasional itu umumnya berasal dari negara jiran China seperti Korea Selatan, Thailand, dan Rusia.
Dalam buku ini sebenarnya masih ada beberapa startegi yang dilakukan China untuk merebut status super power. Strategi-strategi menarik lainnya bisa kalian baca selengkapnya di buku bagus ini.

Kelebihan dan Kekurangan Buku
Secara keseluruhan, buku ini adalah buku yang bagus. Ditulis dengan bahasa yang tidak terlalu berat dan bisa dimengerti. Penjelasan yang diberikan pun cukup lengkap dan padat. Namun, buku ini tentu memiliki kelemahan. Salah satunya adalah ada beberapa kata yang tidak dijelaskan apa itu maksud sebenarnya. Contohnya saja halaman paling awal, halaman satu, tertulis bahwa “Krisis ini mendorong negara-negara anggota G-20 untuk…” namun tidak ada penjelasan lebih lanjut negara-negara mana saja yang menjadi anggota G-20. Tetapi pembaca bisa mencarinya dari sumber lain, internet mislanya. Selain itu, buku ini juga memiliki satu kata yang ditulis secara tidak tepat. Kata typo itu terdapat di halaman ketiga paragraf kedua, disana tertulis “…Dalam kenyataannya, darat belum melakukan langkah…” saya sangat yakin, kata bercetak miring itu seharusnya adalah barat. Namun, tertulis darat.