[REVIEW BUKU #1] Rumah Kertas : Cerita Para Bibliofil.
Apakah anda seorang penggila buku? yang memiliki kerelaan mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk membeli buku-buku, yang memiliki ketakutan saat melihat buku-buku anda basah, rusak atau terlipat sembarang, yang menyediakan space yang cukup luas untuk buku di ruang pribadi anda? maka buku yang berjudul Rumah Kertas ini cocok untuk anda baca. Sebagai seseorang yang jatuh cinta pada buku, kisah di buku ini membuat saya merasa relate dan minder. Relate karena saya merasakan apa yang si tokoh rasakan dan minder karena ternyata kecintaan saya terhadap buku belum ada apa-apanya dengan kecintaan si tokoh ini terhadap buku.
Pada musim semi 1998, bu dosen Bluma Lenon membeli satu eksemplar buku lawas Poem karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal. Buku mengubah takdir hidup orang-orang. -hal 1-
Buku yang ditulis oleh penulis kelahiran Argentina, Carlos María Domínguez, ini diawali oleh paragraf yang begitu apik. Pernyataan “Buku mengubah takdir hidup orang-orang.” membuat saya terus ingin membacanya. Buku dengan 76 halaman ini terlalu singkat untuk disebut novel dan terlalu panjang untuk disebut cerpen, sehingga novelet adalah penyebutan yang pas.
Novelet ini bercerita bagaimana kisah tokoh yang dituliskan sebagai “aku” mencari pengirim paket yang berisikan sebuah buku edisi lama La línea de sombra karya Joseph Conrad yang ia terima di kantornya. Sebenarnya paket itu tidak dialamatkan ke dirinya, tapi dialamatkan ke seorang koleganya, Bluma Lenon, yang telah meninggal tertabrak mobil saat sedang asik membaca puisi karya Emily Dickinson dari buku yang baru saja dia beli di sebuah toko buku. Paket berperangko Uruguay yang tidak memiliki nama dan alamat pengirim itu cukup mengherankan karena berisikan buku yang di sampul depan dan belakangnya menempel kerak bekas adukan semen dan di halaman persembahannya tertera tulisan Bluma, Bluma menuliskan :
Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu..... tertanggal 8 Juli 1996.
Dalam proses pencariannya dia bertemu dengan seseorang yang bernama Delgado di sebuah wilayah bernama “Punta Carretas” atau “Titik Pedati”. Dalam pertemuannya itu, tokoh “aku” dibuat kagum saat memasuki sebuah ruangan milik Delgado yang memiliki rak-rak besar berlapis kaca di sekujur dinding, dari lantai hingga sampai ke langit-langit. Rak-rak besar yang menutupi dinding itu dipenuhi oleh buku-buku. Mengejutkannya lagi, rak-rak raksasa berisi buku itu tidak hanya di satu ruangan, melainkan di ruangan yang lainnya.
Setelah membuat takjub tokoh “aku” karena rak-rak raksasa berisi buku itu, Delgado mulai bercerita tentang seseorang yang membuat tokoh “aku” penasaran karena namanya yang tertulis di halaman persembahan buku itu, Carlos Brauer. Melalui pemaparan Delgado, ternyata Carlos Brauer adalah seseorang yang sangat menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi oleh buku-buku. Tak hanya memiliki 20 ribu buku yang tersusun di rak-rak buku besar yang menutupi dinding, tapi juga ada buku-buku yang disimpan di lemari-lemari buku, dapur, kamar mandi, kamar tidur, hingga di anak tangga menuju loteng rumahnya. Ternyata tempat-tempat itu masih tak cukup untuk menyimpan buku bacaannya yang sangat banyak itu, sehingga Brauer memberikan mobilnya secara sukarela ke temannya agar garasinya bisa ia isi dengan buku-bukunya lagi!
Brauer memiliki kebiasaan membaca buku dengan cahaya lilin, yang kemudian kebiasaannya ini membawanya pada sebuah mala petaka. Suatu ketika saat Brauer lupa meletakkan kandil lilin di atas lemari indeksnya, lilin itu terjatuh dan membakar habis lemari beserta indeks-indeks untuk menata perpustakaannya yang telah ia susun. Kehilangan seluruh harapan untuk menata perpustakaannya sangat memukul Brauer. Peristiwa memilikukan ini membawa Brauer pada keputusan untuk menjual rumahnya dan pindah ke Rocha La Paloma bersama buku-bukunya. Di Rocha, ia membangun sebuah rumah di tepi laut.
Kisah dalam novelet ini sebenarnya sederhana. Namun, buku ini sangat layak dibaca. Novelet ini juga menuliskan quote-quote yang sangat bisa kamu rasakan jika kamu adalah seorang bibliofil. Ada 3 kalimat yang membuat saya tersenyum karena saya sering merasakannya, ketiganya adalah :
Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. Dengan mereka kita terikat pada pakta kebutuhan dan pengabaian, seolah-olah mereka menjadi saksi bagi momen hidup kita yang takkan pernah terjumpai lagi. Namun, selama buku-buku itu masih ada, momen itu pun tetap menjadi bagian dari diri kita.
Tak ada orang yang mau lupa menaruh buku. Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung, ketimbang buku yang halaman-halamannya takkan pernah bisa kita baca lagi, namun yang tetap terkenang, seperti bunyi judulnya, sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.
Membangun perpustakaan adalah mencipta kehidupan. Perpustakaan tak pernah menjadi kumpulan acal dari buku-buku belaka.
Dari novelet sederhana ini saya memahami bagaimana para penggila buku memperlakukan buku-bukunya sangat istimewa bahkan melebihi apapun. Novelet ini menyadarkan saya bahwa kecintaan pada buku bukan hanya sebatas kerelaan menghabiskan uang yang cukup banyak untuk membeli buku, kemudian menyimpan dan memajangnya agar terlihat cerdas. Melainkan, ketika kau mencintai buku berarti kau juga memiliki kegilaan untuk membacanya. Bila kau bisa merelakan uang untuk membelinya, semoga juga bisa merelakan waktu untuk membacanya.
Untuk mengakhiri ulasan singkat ini, saya ingin mengutip suatu quote dari seorang penulis asal Amerika, Mark Twain, yang mengatakan “The man who does not read has no advantage over the man who can not read.”. Seseorang yang tidak membaca tidak memiliki kelebihan dibanding orang yang tidak bisa membaca. Sama saja.

2 Komentar
Artikelnya bagus gan..
BalasHapusKunjungi web https://mobilephone-web.blogspot.com/ untuk mempelajari teknologi...
Semoga bisa membantu.
Info menarik kak, salam newbie.
BalasHapusMampir jika berkenan
https://ragamfootball.blogspot.com