Pergi Sendirian? Memangnya Kenapa?
Saat update status perihal kegiatan yang saya lakukan, saya kerap menerima komentar yang kemudian membuat saya sadar bahwa dewasa ini jalan sendirian dianggap sesuatu yang aneh. Komentar yang saya terima cukup beragam. Ada yang minta diajak untuk jalan bareng, ada yang menawarkan diri untuk menemani, ada yang merasa kagum karena dia tak nyaman jalan sendiri dan ada yang perihatin karena mengira saya tidak punya teman. Semua komentar itu sebenarnya tak bisa disalahkan. Karena saya hanya memposting sebuah gambar tanpa menceritakan apa yang terjadi. Setiap orang berhak hidup dengan interpretasinya terhadap apapun. Dan karena itulah tulisan ini hadir. Berharap ketika tulisan ini telah kalian baca, tak akan ada lagi komentar yang berbeda frekuwensinya.
Sebenarnya alasan mengapa saya kerap jalan sendirian itu jauh dari alasan “tidak ada teman”. Saya melakukan perjalanan sendiri itu atas dasar rasa bahagia dan kenyamanan saya. Jadi begini teman teman, adapun alasan mengapa saya senang dan kerap berpergian sendirian adalah :
1. Memiliki selera yang berbeda. Bila sebagian besar perempuan seusia saya senang mengunjungi store-store skin care, make up, baju, tas, dan aksesoris wanita lainnya, saya lebih suka mengunjungi toko buku (bahkan tempat pertama yang saya hapal rute-nya dari kos saya adalah toko buku,sanking seringnya dikunjungi), perpustakaan atau tempat makan. Sama seperti kalian yang menyukai store kecantikan, bagi saya mengunjungi toko buku pun memberi saya kebahagiaan. Perbedaan selera inilah kemudian yang mengharuskan saya nyaman untuk berpergian sendirian. Siapapula yang mau di ajak ke toko buku yang menghabiskan waktu yang cukup lama, minimal satu jam, hanya untuk berkeliling dan melimpir di lantai ketika menemukan buku bagus plus saya cuekin (karna saya tidak suka mengobrol ketika di toko buku ataupun di perpustakaan)?. Dan sebenarnya, perbedaan selera ini kerap membuat saya dimarahi oleh Mama. Setiap kali saya menemani Mama ke toko baju, beberapa menit kemudian saya akan rewel minta pulang. Dan Mama akan ngomong dengan kesal “Bentar lah nak. Tadi kenapa mau ikut.” Kemudian dalam hati saya bertanya, “Lah, kan Mama yang maksa minta ditemani.”
2. Saya suka nyasar dan menikmatinya. Ini terdengar konyol memang. Saya adalah tipe orang yang amat sangat susah mengahapal rute. Bersyukur sekali saya hadir ditengah teknologi yang sudah amat canggih ini yang telah menyediakan peta elektronik bernama Google Maps. Selama ada Google Maps, saya akan jalan-jalan dengan angkuhnya. Tapi, sering kali saya sok merasa ingin menantang diri sendiri. Seringkali saya tidak menggunakan maps kemudian lalu lalang di Jogja tanpa tau arah dan tujuan. Kalau sudah nyasar, saya selalu suggest ke diri sendiri “Pasti pulang kok, Din. Walaupun mungkin habis Isha baru nyampe kos. Yang penting pasti nyampe lah.” Saat itu saya tidak akan panik. Saya arahkan motor mengikuti insting yang lemah ini. Saya rasa orang pada umumnya menganggap ini aneh. Thats the point kenapa saya tidak terlalu suka berpergian bersama orang lain dan lebih memilih jalan sendirian.
3. Tidak suka berbasa-basi. Im introvert. I hate small talk. Saya berekspetasi ketika saya jalan bersama seseorang atau beberapa orang, saya ingin kami mengobrol. Mungkin bisa ketawa dengan lawakan yang receh tau mengobrol apa saja. Yang terpenting jangan diam-diaman. Masalahnya, sekarang ini sulit untuk menemukan bahan obrolan yang memang pantas diobrolkan. Ketika berkumpul, mayoritas yang diomongkan adalah soal gosip atau hal basa-basi lainnya. Ngomong-ngomong soal gosip, saya juga bukan tipe orang yang amat benci gosip. Terkadang saya juga menikmati sebuah gosip, asal saya tahu orang yang digosipi itu siapa. Nah, kebanyakan saat bergosip dengan teman-teman, saya tidak kenal siapa yang sedang kami gosipkan dan saya tidak suka itu. Selain gosip apalagi yang kerap dibicarakan? Ya basa-basi. Nah, saya tidak suka basa-basi yang terlalu mendominasi. Lalu timbul pertanyaan, “Ya kalau gak suka basa-basi dan tidak nyaman dengan bahan obrolan pada umumnya, ya buka bahan obrolan yang kamu suka, Din.” I know this. Tapi saya juga tidak terlalu lihai menciptakan sebuah obrolan. Saya lebih bisa mempertahankan sebuah obrolan daripada memulainya. Kepayahan inilah yang kemudian membuat saya merasa lebih nyaman bila sendirian saja. Seperti saya tidak perlu berusaha untuk terlihat menyukai basa-basi dan gosip atau berusaha menciptakan sebuah obrolan yang saya sukai. Begitu teman-teman-teman.
4. Lebih nyaman sendirian. Ada orang-orang yang selalu sendirian, tetapi dia tidak nyaman dengan hal itu. Sebenarnya, dia ingin bergabung dengan orang lain. Namun, ada faktor-faktor yang membatasinya untuk itu. Misalnya merasa insecure dengan diri sendiri. Alhamdulillah saya orang yang senang sendirian dan saya nyaman dengan itu. Sebenarnya, saya juga cukup sering jalan dengan teman. Tetapi saya membatasi hal tersebut. Untuk makan, saya membebaskan diri saya dengan siapa saja dan saya nyaman dengan itu. Contohnya, bila setelah selesai kelas di kampus kemudian ada teman yang ngajakin makan, saya akan pergi makan bersama. Atau terkadang saya yang mengajak untuk makan bersama. Atau saat jalan-jalan ke Mall. Untuk hal ini, itu sangat jarang terjadi. Karena saya juga bukan tipe orang yang selalu nge-mall. Tetapi saya tidak masalah untuk berpergian ke Mall sama-sama. Khusus untuk toko buku dan perpustakaan, saya memang sengaja tidak pernah mengajak orang dan tidak pernah mau diajak orang. Karena bagi saya, hobi itu bersifat personal. Saya lebih nyaman melakukannya sendirian.
5. Spontan. Ketika berpergian dengan teman, mau tidak mau, kau harus menyediakan waktu untuk menunggu. Saya bukan termasuk orang yang apa-apa penuh dengan perencanaan. Ada satu waktu tiba-tiba saya ingin ke suatu tempat. Saat itu juga saya akan bersiap dan kemudian pergi. Bila menunggu hal-hal lain, bisa jadi mood saya untuk berpergian akan hilang. Terlebih saya orang yang mager-an. Once saya sudah malas, susah untuk mengumpulkan niatnya lagi. Oleh karena itulah saya sedikit tidak nyaman untuk berpergiaan dengan orang lain. Misalnya, pukul 13.00 saya sudah selesai bersiap dan memiliki mood untuk keluar kamar. Namun, teman jalan saya masih bersiap-siap dan dia masih membutuhkan waktu kira-kira satu jam lagi untuk selesai bersiap, saat itu sudah dipastikan mood saya sudah berubah. Ketika jalan sendirian, saya berniat, saya bersiap dan saya berangkat.
Dengan beberapa alasan yang telah terpapar, kesimpulannya adalah ini hanya soal saya nyaman dengan diri saya sendiri. Tidak ada yang salah dengan berpergian sendirian dan nyaman melakukan banyak hal sendirian. I believe that being a independent is a new sexy. Jadi, untuk teman-teman yang mungkin merasakan hal yang sama dengan saya, tetaplah lakukan itu. Tidak ada yang salah dengan itu. Jangan menyulitkan diri sendiri. Selama nyaman dan tidak melukai atau merugikan orang lain, lakukan saja. Dan untuk teman-teman yang menganggap hal ini aneh hingga mengira saya anti sosial, tak mengapa. Sulit menjelaskan bagaimana nikmatnya apa-apa sendirian dan berani sendiri itu seperti apa. Terakhir, untuk kalian yang ingin melepaskan diri dari ketergantungan terhadap keberadaan orang lain, lakukan saja! Awalnya akan terasa sulit, terasa sepi. Tetapi setelah hal itu menjadi kebiasaan dan bahkan menjadi gaya hidup, percayalah kalian akan merasakan kebebasan yang menyenangkan. Bebas berpergian kemanapun tanpa memakan waktu hanya untuk berpikir dengan siapa akan pergi. Jangan tunggu apa-apa, lakukan saja dan coba. Belajarlah nyaman dengan diri sendiri. Karena dunia ini tidak berputar hanya untuk mu saja, yang akan selalu ada untukmu ya dirimu sendiri. Orang lain tak ada yang menjamin.

8 Komentar
Poin 1, 4, & 5
BalasHapusPas pas banget sama alasan ku jg, yg punya kebiasaan "jalan sendiri"....
Enak sekali. Btw, temanya adem kak. Jd pengen lama2 baca tulisan di sini
BalasHapus#YANGMAHASALAH
wah.. terimakasih!tunggu tulisan selanjutnya ya kak:)
HapusBagus nih tulisannya, semoga kelak dirimu jadi penulis terkenal����, dan semangat lagi tuk berkarya😊
BalasHapusRidho...Makasih doanya dho.Amiiinn!
Hapuspas pertama kali baca yang "review buku rumah kertas" saya tertarik banget kak baca tulisan tulisan kakak
BalasHapuswahh..terimakasih!!
Hapusmau berkunjung ke blog kamu juga dong
Hapus